Selasa, 05 April 2011

Faktor Risiko Terjadinya Hipertensi

Penyakit darah tinggi yang lebih dikenal sebagai hipertensi
merupakan penyakit yang mendapat perhatian dari semua kalangan masyarakat,
mengingat dampak yang ditimbulkannya baik jangka pendek maupun jangka panjang sehingga membutuhkan penanggulangan jangka panjang yang menyeluruh dan terpadu. Penyakit hipertensi menimbulkan angka morbiditas (kesakitan) dan mortalitasnya kematian) yang tinggi.Penyakit hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi dari berbagai faktor resiko yang dimiliki seseorang.

Berbagai penelitian telah menghubungkan antara berbagai faktor risiko terhadap timbulnya hipertensi.Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tenyata prevalensi (angka kejadian) hipertensi meningkat dengan bertambahnya usia. Dari berbagai penelitian epidemiologis yang dilakukan di Indonesia menunjukan 1,8-28,6% penduduk yang berusia diatas 20 tahun adalah penderita hipertensi. Saat ini terdapat adanya kecenderungan bahwa masyarakat perkotaan lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan masyarakat pedesaan. Hal ini antara lain dihubungkan dengan adanya gaya hidup masyarakat kota yang berhubungan dengan risiko penyakit hipertensi seperti stress, obesitas (kegemukan), kurangnya olah raga, merokok, alkohol, dan makan makanan yang tinggi kadar lemaknya. Bila ditinjau perbandingan antara perempuan dan pria, ternyata perempuan lebih banyak menderita hipertensi.

Dari laporan Sugiri di Jawa Tengah didapatkan angka prevalensi 6,0% untuk pria dan 11,6% untuk Perempuan. Prevalensi di Sumatera Barat 18,6% pria dan 17,4% perempuan, sedangkan daerah perkotaan di Jakarta (Petukangan) didapatkan 14,6% pria dan 13,7% perempuan. Peran faktor genetik terhadap timbulnya hipertensi terbukti dengan ditemukannya kejadian bahwa hipertensi lebih banyak pada pada kembar monozigot (satu sel telur)daripada heterozigot (berbeda sel telur). Seorang penderita yang mempunyai sifat genetik hipertensi primer (esensial) apabila dibiarkan secara alamiah tanpa intervensi terapi, bersama lingkungannya akan menyebabkan hipertensinya berkembang dan dalam waktu sekitar 30-50 tahun akan timbul tanda dan gejala hipertensi dengan kemungkinan komplikasinya. Secara umum masyarakat sering menghubungkan antara konsumsi garam dengan hipertensi. Garam merupakan hal yang sangat penting pada mekanisme timbulnya hipertensi.

Pengaruh asupan garam terhadap hipertensi melalui peningkatan volume plasma (cairan tubuh) dan tekanan darah. Keadaan ini akan diikuti oleh peningkatan ekskresi (pengeluaran) kelebihan garam sehingga kembali pada keadaan hemodinamik (sistem pendarahan) yang normal. Pada hipertensi esensial mekanisme ini terganggu, di samping ada faktor lain yang berpengaruh. Hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis, yang dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap. Apabila stress menjadi berkepanjangan dapat berakibat tekanan darah menjadi tetap tinggi. Hal ini secara pasti belum terbukti, akan tetapi pada binatang percobaan yang diberikan pemaparan tehadap stress ternyata membuat binatang tersebut menjadi hipertensi.

Obesitas atau kegemukan dimana berat badan mencapai indeks massa tubuh > 27 (berat badan (kg) dibagi kuadrat tinggi badan (m)) juga merupakan salah satu faktor risiko terhadap timbulnya hipertensi. Obesitas merupakan ciri dari populasi penderita hipertensi. Curah jantung dan sirkulasi volume darah penderita hipertensi yang obesitas lebih tinggi dari penderita hipertensi yang tidak obesitas. Pada obesitas tahanan perifer berkurang atau normal, sedangkan aktivitas saraf simpatis meninggi dengan aktivitas renin plasma yang rendah. Olah raga ternyata juga dihubungkan dengan pengobatan terhadap hipertensi. Melalui olah raga yang isotonik dan teratur (aktivitas fisik aerobik selama 30-45 menit/hari) dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah. Selain itu dengan kurangnya olah raga maka risiko timbulnya obesitas akan bertambah, dan apabila asupan garam bertambah maka risiko timbulnya hipertensi juga akan bertambah.

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya gangguan atau kerusakan pada pembuluh darah turut berperan pada penyakit hipertensi.nFaktor-faktor tersebut antara lain merokok, asam lemak jenuh dan tingginya kolesterol dalam darah. Selain faktor-faktor tersebut di atas, faktor lain yang mempengaruhi terjadinya hipertensi antara lain alkohol, gangguan mekanisme pompa natrium (yang mengatur jumlah cairan tubuh), faktor renin- angiotensin-aldosteron (hormon-hormon yang mempengaruhi tekanan darah). Oleh karena penyakit hipertensi timbul akibat adanya interaksi dari berbagai faktor sehingga dari seluruh faktor yang telah disebutkan diatas, faktor mana yang lebih berperan terhadap timbulnya hipertensi tidak dapat diketahui dengan pasti. Oleh karena itulah maka pencegahan penyakit hipertensi yang antara lain dapat dilakukan dengan menjalankan gaya hidup sehat menjadi sangat penting.


source:http://www.mail-archive.com/sukasukamu@yahoogroups.com/msg00321.html

Senin, 04 April 2011

NASIB OBAT DI DALAM TUBUH A. EFEK OBAT

  1. Efek obat

OBAT EFEK ( RESPON )

Efek obat ialah perubahan fungsi struktur ( organ ) atau proses atau tingkah laku organisme hidup akibat kerja obat.

Efek obat dapat dibedakan menjadi :

a. Efek lokal

Efek obat yang timbul pada tempat pemberian atau tempat aplikasi.

b. Efek sistemik

Efek obat yang timbul setelah obat dibawa oleh aliran darah dari tempat pemberian menuju ke tempat kerjanya.

B. CARA PEMBERIAN OBAT

Acuan :

1. Sistem kardiovaskuler

a. Intravaskuler ( IV ), misal : i.v dan i.a

b. Ekstravaskuler ( EV ), missal : p.o ; i.m ; dan i.p

2. Sistem pencernaan

a. Parenteral, missal : sublingual, p.o dan per rectal.

b. Par (a) enteral, missal : i.v ; i.m ; dan i.p

Peristiwa-peristiwa

OBAT [ tiga fase ] EFEK ( RESPON )

( dalam bentuk sediaan obat )

1. Fase farmasetik

2. Fase farmakokinetik

3. Fase farmakodinamik

1. Fase farmasetik

Lepasnya zat aktif dari sediaan obat dan kemudian melarut ke dalam cairan absorpsi.

Menentukan : ketersediaan farmasetik

Misalnya obat diberikan dalam bentuk tablet.

Obat

( tablet )

( disintegrasi ) ( disolusi )

granul ( disolusi ) [ cairan absorpsi ] Absorpsi darah

( deagregasi ) ( disolusi )











Partikel halus

2. Fase Farmakokinetik

Meliputi absorbsi, distribusi, biotransformasi, dan ekskresi.

Menentukan : Ketersediaan obat di tempat kerjanya

  1. Absorbsi

Perpindahan obat dari tempat pemberian ( aplikasi ) sirkulasi sisemik

  1. Distribusi

Perpindahan obat dari darah ke cairan tubuuh lain, jaringan serta organ tubuh.

  1. Biotransformasi

Perubahan obat menjadi senyawa lain ( metabolit )

  1. Ekskresi

Perpindahan obat dari dalam tubuh ke luar tubuh.

3. Fase Farmakodinamik

Bekerja di tempat kerjanya ( jaringan sasaran ) efek.

Jika kerja obat diperantarai reseptor :

D + R DR E

( obat ) ( reseptor ) ( kompleks obat-reseptor) ( efek )

Minggu, 03 April 2011

AMEBIASIS

AMEBIASIS

Infeksi karena Entamoeba histolytica

Gambaran klinik :

  • Infeksi berat intestinal ( dysentery )
  • Infeksi ringan asimptomatik
  • Infeksi umum nondisentri ( fatigue, sakit perut, diare, Intermitten konstipasi )
  • Infeksi ekstraintestinal ( liver abscess, pleuropulmonary amebiasis, amebic pericarditis, ameboma, cerebral, genital atau skin amebiasis )

Distribusi dan prevalensi :

  • Ditemukan di seluruh dunia baik pada iklim dingin, sedang maupun tropic.
  • Sering ditemukan di derah tropic, ada hubungan dengan sanitasi dan nutrisi yang tidak baik, penurunan ketahanan dll.
  • Prevalensi lebih tinggi pada keluarga terinfeksi, homoseksual, RSJ, penjara, penampungan anak.
  • Perbedaan teknik laboratorium, personel, cara koleksi sample, jumlah sample menentukan ketetapan/ tidaknya diagnosis.
  • High-risk areas : Meksiko, Amerika Selatan bagian barat, Afrika Barat, Afrika selatan, Asia tengah dan Asia tenggara.

Epidemiologi

Infectious stage

  • Troposoid tidak dapat hidup lama di luar tubuh, akan mati gastiric secretions, tidak berperan dalam transmisi.
  • Kista dapat hidup lama diluar tubuh cukup untuk terjadinya infeksi

Transmisi

  • Manusia sumber penularan utama lewat kontak langsung atau kontaminasi makanan dan air.
  • Hewan yang dapat menularkan kera, anjing dan babi.
  • Infeksi dapat terjadi pada semua kelompok umur, tetapi anak-anak dan remaja mempunyai resiko tinggi.

Manifestasi klinik

Amebic dysentery ( Acut Amebic Colitis )

  • Inkubasi 7-21 hari, onset bisa berhenti tiba-tiba
  • Simptom : abdominal cramps, panas dingin, lemah, nausea, headache, tenesmus, dehidrasi, feces cair berdarah. Angka darah putih naik, destruksi mukosa, hemorrhage, perforasi, peritonitis.

Manajemen Suplai Obat

MANAJEMEN SUPLAI OBAT

PENGADAAN OBAT

Tujuan : Menjamin ketersediaan obat dengan kualitas standar, dalam jumlah yang tepat, dan dengan biaya seminimal mungkin.

Metoda : Obat yang diadakan dapat dibeli atau diperoleh dari donasi.

Siklus umum pengadaan obat

Review seleksi obat

Menentukan jumlah obat yang diperlukan

Menyesuaikan kebutuhan & dana

Memilih metode pengadaan

Identifikasi dan memilih suppliers

Specify contract term

Monitor status pesanan

Menerima dan mencek kebenaran produk

§ Pembayaran

Cara pengadaan obat yang baik

§ Pengadaan dengan nama generik (= obat dengan nama INN), obat yang masa patenya telah habis, harganya murah karena sebelumnya di monopoli (hak paten)

§ Membatasi pengadaan obat daftar obat esensial, formularium

§ Pengadaan dalam bulk

§ Kualifikasi supplier secara formal & monitoring

§ Pengadaan kompetitif

§ Komitment kepada supplier pemenang

§ Jumlah pesanan berdasarkan perkiraan kebutuhan yang reliable

§ Reliable payment & manajemen keuangan baik

§ Prosedur transparan & tertulis

§ Separation of key function : siklus pengelolaan dengan orangyang lebih dari satu sehingga pengawasan cukup banyak.

§ Program QA

§ Annual audit, hasil dipublikasi

§ Laporan secara teratur mengenai kinerja pengadaan

Metode Pengadaan Obat

Open Tender

Restricted Tender : selective tender, tawaran tertutup proses prekualifikasi secara formal

Competitive Negotiation

Direct procurement

Strategi Pengadaan Obat

§ Harus mengurangi ketidak pastian atas jaminan mutu selama pengiriman, atas ketepatan wkt pengiriman, pembayaran

§ Strategi yg paling sering dipakai adl

Ø Blind confidence ( direct purchasing) à Pembelian berdasarkan katalog pada faktur, Prinsip : Pembeli percaya kepada produsen

Keuntungan : Fleksibel, cepat, biaya transaksi rendah

Kerugian : Penyalahgunaan oleh supplier

Ø Systematic distrust àDapat menerapkan tender atau transaksi mutual agreement

Prinsip : pembeli tidak percaya kepada produsen atau supplier Reputasi supplier tidak menjadi bahan pertimbangan, Dasar pembelian utamanya harga murah & tersedia pada saat dibutuhkan

Kerugian : biaya transaksi tinggi; kualitas tidak memenuhi syarat

Ø Cooperationà Tender & kontrak dengan mutual agreement

Prinsip : pembeli memiliki kepercayaan terbatas terhadap produsen & verifikasi bahwa mereka tidak menyalahgunakan kepercayaan ini, Supplier dipilih yang mempunyai reputasi baik

Keuntungan : pembeli tidak perlu mencek terus menerus harga termurah

Organisasi & Struktur Pengadaan Obat

1.Sentralisasi atau desentralisasi

Keuntungan sistem sentralisasi

· dapat dengan pooled procurement yg dapat lebih efisien ( biaya pembelian, keahlian, sistem kontrol administrasi fs manajemen)

· terutama bila dipakai strategi systematic ditrust atau cooperation

· membuka peluang utk networking intern.

2.Monopoli atau kompetisi

· Walau sistem sentralisasi memiliki banyak keuntungan, ttp timbul isu monopoli (monopoli geografis, monopoli sektoral dll)

· Secara teoritis sistem monopoli seharusnya memberikan penghematan karena unit cost-nya lbh kecil.

· Namun sering justru menjadi tdk efisien bila disalah-gunakan.

3.Monopoli & skala ekonomik

4.Monopoli & tingkah laku strategik

5.Pemerintah atau swasta

Kedua sistem dapat dilaksanakan bersamaan

- Harus menetapkan spesifikasi

- Dilaksanakan oleh organisasi yg dapat diandalkan (mis : dapat dikontrol memiliki kepentingan utk masyarakat)

Kelemahan sektor swasta adl kurang mengutamakan kepentingan sosial dan masy.

Kuantifikasi Pengadaan Obat

Konsumsi yang lalu : utk perencanaan berdsrkan konsumsi yg lalu di+ revisi -> tergantung pada demand prescriber dan konsumen

Kebutuhan nyata berdsrkan data morbiditas (all population dan selected) -> memiliki kekuatan dan limitasi

Jangka waktu pengobatan : a.L frekuensi penyakit dikalikan dengan jangka waktu pengobatan sesuai standar pengobatan

Proses Pengadaan Obat Effektif

§ Mengadakan obat yang tepat & jumlah yang tepat

§ Harga pembelian serendah mungkin

§ Memenuhi standar kualitas

§ Pengiriman tepat waktu à shortage & stockout

§ Supplier dipercaya : service & kualitas

§ Menyusun jadwal pembelian, jumlah pesanan, safety stock level à lowest total cost

Faktor Penting Dalam Pengadaan Obat (Kesimpulan)

ü Metoda kalkulasi (konsumsi/morbiditas) dipilih sesuai tujuan

ü Pengadaan terpusat lebih cost benefit dan tidak berarti monopoli

ü Pengawasan terhadap proses pengadaan perlu terpadu

Prinsip Manajemen Suplai Obat Dalam Kondisi EMERGENCY (1)

Kuantifikasi obat dapat dilakukan berdsrkan pola morbiditas dan jangka waktu pengobatan sebagai inisiasi manajemen.

Seleksi harus terdiri dari basic units dan suplementary unit , misalnya 1 basic unit adl kebutuhan obat dasar utk 1000 org selama 3 bulan, sedang 1 suplementary unit adl kebutuhan diluar basic unit utk mendukung 10 paket basic unit

Prinsip manajemen suplai obat dalam kondisi EMERGENCY (2)

Apabila obat merupakan donasi harus mengikuti Pedoman Donasi obat WHO, dan negara penerima donasi

Harus dilakukan jaminan mutu pada waktu penerimaan, penyimpanan dan distribusi obat sesuai prinsip manajemen sulai obat

Yang harus diperhatikan adalah obat yg tidak diperlukan (mis: pada donasi) dan obat yg rusak/ED